Para pendengkur sekarang dapat melakukan tes untuk dirinya sendiri untuk gejala pola tidur apnea dengan menggunakan strip untuk diri mereka sendiri untuk dipercaya sebagai tes yang pertama pada awalnya.

Negara Israel menemukannya, dan Negara Singapura membuat strip tersebut agar lebih akurat untuk sebuah penelitian tidur yang standar, tetapi lebih murah dan lebih nyaman. Keberadaan dari strip tersebut dapat meyakinkan si penderita untuk diuji. Banyak diantara mereka tidak ingin menghabiskan waktu dan uang untuk melakukannya. Namun gangguan pola tidur apnea dapat menyebabkan masalah yang serius seperti stroke dan bahkan masalah rumah tangga dalam perkawinan.

Pola tidur apnea menyebabkan orang dengan saluran udara menjadi menyempit sehingga dapat menyebabkan berhentinya proses bernapas selama 10 detik atau lebih secara berulang kali selama tidur. Hal tersebut dapat menyebabkan hipertensi, penyakit jantung, dan stroke. Kondisi ini dapat mempengaruhi sekitar 15 persen orang, dan 88 persen dari para pendengkur. Pasien dapat diobati dengan menggunakan splints gigi, masker oksigen, atau operasi bedah.

Secara internasional, 90 persen penderita pola tidur apnea adalah tidak terdiagnosis dengan baik, sosok yang mendorong penemu strip dari Israel ini, Tuan Noam Hadas, untuk mengembangkannya. Dia mengatakan: “Saya berharap bahwa dengan cara ini, setidaknya beberapa dari mereka akan terdeteksi dan mendapatkan bantuan medis yang mereka perlukan”. Dia memilih perusahaan Singapura MFS-Teknology untuk membuat strip untuk pihak lain dari China dan India karena kualitas yang kerja mereka.

Pola tidur apnea dapat didiagnosis dengan sebuah penelitian tidur semalaman, dimana kabel – kabel diletakkan di kepala dan tubuh pasien yang sedang tidur untuk memantau gelombang otak, gerakan mata, dan pola pernapasan. Penelitian ini paling baik dilakukan di rumah sakit, tetapi biayanya lebih dari $900. Teknisi dapat menghubungkan pasien di rumah untuk biaya sekitar $600. Rumah sakit juga dapat meminjamkan kepada pasien perangkat yang menyerupai jam tangan, untuk dilakukannya tes di rumah, untuk biaya sekitar $300.

Tes pada diri sendiri ini, disebut “SleepStrip”, dimana memiliki tiga sensor untuk mendeteksi napas yang berhenti lebih dari 10 detik dan melacak jumlah episode pada fase tersebut. Pengguna harus tidur dengan strip yang diletakkan di bawah hidung minimal selama lima jam. Mereka dapat membaca hasilnya setelah – 0, 1, 2 atau 3 satu jam setelah menghapusnya. Mereka yang nilainya nol merupakan pihak yang tidak memiliki pola tidur apnea. Untuk sisanya, semakin tinggi jumlahnya daripada skor tersebut, maka mengindikasikan lebih buruknya pola tidur apnea pada para pihak tersebut. Strip tersebut berbiaya $120 sampai $200 dan disediakan pleh para dokter umum dan dokter gigi.

Dari Maret, distributor Singapura, MeirHealth Asia, akan menjual strip tersebut melalui email, untuk $85. Rincian produk akan diposting di http://www.meirhealth.com bulan depan. Manajer Pemasaran, Nona Ginny Cheong, mengatakan perusahaan dapat menurunkan harga untuk para pelanggan dengan menjual “SleepStrip” langsung kepada mereka.

Dr Adrian Yap, seorang ahli bedah gigi di praktek swasta, mengatakan ia pernah dirawat seorang pria yang memiliki pola tidur apnea yang begitu buruk hingga istrinya menceraikan dia karena sebelumnya menolak untuk mencari pengobatan. Mereka tidak berbagi tempat tidur selama dua tahun. Dia berkata: “Banyak orang tidak akan menghabiskan uang $1000 jika mereka tidak yakin mereka memiliki masalah. Strip akan membantu lebih banyak orang untuk dites. Dr. Kevin Soh, seorang spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan di Rumah Sakit Mount Elizabeth, menggunakan strip untuk para pasien yang paham akan biaya dan dapat berbahasa Inggris cukup baik untuk mengikuti petunjuk pada tes untuk dirinya sendiri (tes pribadi). Sekitar 40 persen pasien dengan pola tidur apneanya didiagnosis dengan menggunakan strip. Kebanyakan tidak memerlukan sebuah penelitian tidur dimana cukup menggunakan strip untuk memberikan informasi yang cukup untuk melanjutkan dengan pengobatan secara non-bedah, kata Dr. Soh. Busin Essman W.F. Chang, umur 48 tahun, Dia pikir mungkin memiliki pola tidur apnea setelah ia pingsan di lapangan golf. Pola tidur apneanya begitu parah sehingga aliran udaranya tersumbat bahkan pada siang hari, yang menyebabkan dia pingsan. Strip menunjukkan dia memiliki kondisi pola tidur apnea, sehingga dia melanjutkan untuk melakukan penelitian tidur dan kemudian menjalani operasi bedah. Dia mengatakan: “Tes ini mudah untuk digunakan dan memungkinkan anda mengetahui apa yang terjadi pada anda”.